Si Cantik 211

Jika boleh jujur, ini adalah pengalaman pertama ku untuk pergi ke Sulawesi. Pekerjaanku saat ini memang membutuhkan keberanian yang cukup tinggi (bagiku). Dimana aku harus pergi ke luar kota seorang diri untuk sekedar meeting. Yah begitulah kata yang biasa ku ucapkan.  Selain pengalaman pertama untuk terbang ke luar pulau Jawa sendirian, ini juga menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagiku, karena aku harus pergi seorang diri ke tanah yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Pengalaman ini juga tak akan terlupakan, karena ini pun kali pertama aku ditertawakan oleh mahluk yang tidak tampak.
Di dalam sebuah kamar yang berukuran 4×3 meter ini, aku tidur seorang diri. Dihadapi pemandangan pantai luas di depan kamarku yang tertutup beberapa pipa yang sepertinya pipa pembuangan angin. Awal aku masuk ke dalam kamar ini, aku merasa tidak terlalu nyaman untuk menginap di dalamya. Aku sudah berusaha untuk pindah ke kamar lain yang lebih nyaman, namun dikarenakan hotel ini adalah salah satu hotel terkenal, tidak ada kamar kosong lainnya.
Singgah lah aku di kamar tersebut, kamar 211. Aku menginap untuk 2 malam. Di malam inapku yang pertama, terjadi kejadian mati lampu berulang kali, hingga sesekali aku menelpon petugas untuk menanyakan apakah ini benar mati lampu. Untuk mati lampu ke sekian kalinya, tiba kali ini pendingin ruangan di kamarku yang mati, dan mengharuskan aku memanggil teknisi untuk memperbaikinya. Semakin aku tak nyaman di dalam kamarku, hingga aku menanayakan kembali kepada petugas hotel apakah ada kamar kosong lain yang dapat aku singgahi. Namun sayangnya, tak ada kamar kosong lainnya pada malam itu.
Satu malam itu cukup lelah bagiku hingga aku terlelap tidur dan tak memikirkan apa-apa. Tiba keesokan harinya, pada malam hari yang mengharuskan aku untuk meeting hingga hampir jam 10 malam. Setelah meeting ini selesai, aku memesan segelas jus jeruk dan air putih. Saat minumanku sampai di kamar, aku heran, kenapa ada 3 orang pelayan yang mengantarkan minumanku. Untuk apa mereka datang bersamaan ke depan kamarku. Sudah mulai curiga rasanya. Setelah aku menutup pintu kamar dan membesarkan suara televisi, ternyata aku mendengar sebuah suara lain.
eyes-394175_640
Suara yang menertawakanku itu terdengar sebanyak dua kali, dan aku sadar kalau itu bukanlah suara manusia. Suara itu adalah suara sebuah mahluk yang sepertinya sangat dekat denganku, karena suara si cantik itu terdengar lembut dan sangat pelan. Semakin memahami aku, semakin ngeri juga aku untuk tetap bertahan di kamarku. Sehingga aku memutuskan untuk pindah singgah ke sebuah restoran di dalam hotel.
Mataku rasanya sudah tak kuat untuk menatap apapun. Otakku rasanya sudah ingin mulai merangkai mimpi indah untuk malam ini. Kekasihku sepertinya sudah tak tahan untuk memikirkan suatu materi hingga ia mengocehkan apa saja yang terlintas di benaknya. Hingga aku memaksanya untuk segera tidur, karena besok pagi dia harus bekerja. Sendirianlah aku di ruang restoran ini. Bingung mau apa lagi, aku sempatkan untuk berbagi pengalaman ini dalam tulisan ini.
Suara tawa wanita cantik tadi sangat mengangguku. Untung saja aku tak melihat si cantik itu. Namun jika aku boleh meminta, tolong jangan pernah tertawakan aku lagi ya. Ini sudah di luar batas kekuasaanku. Aku seorang diri di tanah orang yang memang baru pertama kali aku singgahi. Kelakuanku yang aneh dengan duduk di restoran hingga pagi hari mungkin menjadi sorotan dari pegawai hotel. Mereka pasti bertanya-tanya dalam hati, apa yang aku kerjakan hingga matahari terbit. Ingin rasanya aku berbagi cerita dengan mereka bahwa saat ini ketakutanku mencapai 100%. Tapi malu rasanya untuk bilang hal itu kepada mereka.
Sudah aku persilahkan kekasihku untuk tidur, tapi dia tetap tak tega meninggalkanku sendirian. Hal itu malah membuatku tak tega padanya yang harus membuka matanya untuk ketakutanku yang sangat tidak penting. Berkali-kali aku suruh dia tidur hingga akhirnya dia benar-benar tertidur. Bukan karena dia tak perduli denganku, tapi karena dia juga sudah lelah bekerja seharian dan esok harus kembali bekerja lagi.
Pastinya ada beberapa pengalaman yang tidak akan aku lupakan untuk tugas kerja kali ini. Dimana aku harus naik pesawat dua kali untuk satu kota tujuan dalam satu kali jalan. Kemudian aku harus mendengar tertawaan si cantik yang tak ingin aku lihat. Lalu pengalaman bermalam di restoran hotel sambil memandangi leptopku, yang sebenarnya mataku ingin sekali untuk istirahat.
Iklan