Catatan Dua Hari

Hanya tinggal menghitung waktu, akan tiba dimana kekasihku akan pergi meninggalkanku. Bukan untuk hal yang tidak baik, hanya untuk tugas bekerja. Hal ini cukup membuatku gelisah akan kehilangannya. Namun mau tak mau, hal itu harus tetap dilakukan. Alih-alih demi menggapai cita-cita, ia rela bekerja keras untuk masa depan kami.
young-people-412041_640
Detik-detik keberengkatannya menuju Sulawesi, membuatku semakin memikirkannya. Jika ku ingat kembali, rasanya salahku sangat besar padanya. Dulu sering sekali aku inginkan dia pergi, hanya karena masalah kecil yang tak penting. Saat ku ingat-ingat kembali, jangankan untuk menyuruhnya pergi dari kehidupanku, menyuruhnya untuk pergi jauh bekerja saja aku tak sanggup.
Terkadang wanita jika sedang emosi memang tak panjang pikiran, ya meskipun tak semua wanita begitu. Tapi tak jarang pula wanita yang memiliki egois tinggi akan mengusir pria nya pergi dari hatinya, ya meskipun kadang itu hanya luapan emosi saja. Bagiku kini, aku hanya ingin memberikan yang terbaik bagi kekasih ku yang bisa disebut calon suamiku nanti. Ya mudah-mudahan aku atau dia tak kepincut oleh hati yang lain.
Tugas kerjanya di luar wilayahku membuat aku menghayalkan betapa hari-hariku akan dipenuhi rasa rindu. Rindu akan kasih sayangnya yang selama ini mungkin tak ku hiraukan. Namun memang pepatah benar, jika sudah tak ada, baru besara kehilangan. Ya meskipun dia bukan tak ada untuk benar-benar tak ada, namun bagiku sulit untuk meminta keseharianku seperti dulu lagi.
Dia bekerja hanya pulang tiga bulan satu kali selama seminggu. Seminggu itupun waktunya tak hanya dihabiskan untukku, masih terbagi untuk keluarga dan teman-temannya. Bisa dibilang, aku hanya kebagian dua hari untuk benar-benar merasakan kehangatannya. Dua hari yang kurasa sangat berharga bagiku.
Iklan