Hanya Ada Pantai Kusam dan Sampah Menggunung

image(7)

Penasaran lihat temen-temen posting jalan-jalan ke hutan Mangrove, bikin hati rasanya pingin segera kesana. Meskipun awalnya gak tau itu tempat apa, tapi lihat dari foto-foto yang di upload ke media sosial tuh rasanya keren-keren. Coba cari tahu apa itu hutan Mangrove, ternyata ini adalah Taman Wisata Alam, Mangrove, di Pantai Indah Kapuk. Akhirnya ditemani Nita dan kak Abaw, aku pun berkunjung ke tempat ini 😀

Ya, ini lah tempat wisata yang lagi hapening banget dibicarakan banyak orang. Isinya tentu beribu-ribu meter air yang ditanami dengan tanaman Mangrove. Tanaman ini adalah tanaman bakau yang tumbuh di air payau. Tujuannya tentu untuk mengatasi global warming yang terjadi di Dunia, khusunya Indonesia, dan lebih khususnya lagi di Jakarta.

Kata seseorang yang lebih dulu mengunjungi tempat ini dari pada aku, katanya sih tempat ini bagus. Indah juga dijadikan wisata alam dan tempat pemotretan. Tapi kenapa aku menilai kebalikan ya? Bukan bermaksud tak menghargai, tapi sepertinya apa yang diceritakan temanku tak sesuai dengan apa yang aku lihat.

Awal masuk ke dalam tempat wisata, aku dimanjakan dengan kandang monyet yang hanya berisi 2 ekor saja. Entah jantan atau betina, aku tak mengerti. Kemudian disamping kandang monyet, ada kandang kelinci. Di luar pagar bertuliskan jika pengunjung ingin masuk, harus membayar 2000 rupiah. Tentu aku ingin masuk dan membelai hewan favoritku ini. Tapi sayangnya itu hanya pajangan saja. Tak ada seekor kelinci pun yang ada di kadang. Pintu kandangnya terbuka dan tak ada satu jejakpun tentang keberadaan kelinci. Saking penasaran, kuamati satu-persatu tanahnya, mana tahu ada lubang bekas galian kelinci. Taunya pun lubangnya tak ada.

Tempat wisata ini sekarang berubah menjadi kumpulan sampah rumah tangga. Banyak sampah di beberapa sudut air. Terutama perairan yang ada di sela-sela pohon Mangrove yang sudah agak besar. Ada bungkus makanan dan minuman, ember, bohlam, hingga sendal.

Sampah yang mengumpul di arah menuju pantai
Sampah yang mengumpul di arah menuju pantai

Kecewa pun bertambah ketika aku berjalan menuju tempat konservasi burung. Dalam bayanganku, di tempat itu nantinya ada sekumpulan burung yang menghiasi dahan pepohonan. Terdengar pula kicauan merdu dari burung-burung yang bernyanyi. Kenyataannya, hanya ada satu ekor burung putih yang aku lihat. Itu pun hanya sebentar, dan burung bergegas pergi lagi. Tak ada kicauan nyanyian merdu atau warna-warni bulu-bulu dari hewan berparuh itu.

Ahh yasudahlah aku segera beranjak mencari tempat lain. Akhirnya aku pergi menuju ujung taman yang diarahkan ke arah pantai. Tentu harapanku indahnya jauh lebih baik dibandingkan pantai Ancol dong. Tak taunya lagi-lagi harapanku ini lenyap.

Aku pun tak tahu bagaimana standar dari sebuah tempat wisata. Namun alangkah baiknya jika diberikan banyak petunjuk yang memudahkan pengunjung, dan petugas pun berjaga secara menyebar. Memang ada beberapa petunjuk, namun sepertinya petunjuk ini masih kurang lengkap. Kemudian memang ada petugas yang berjaga, tapi hanya di pos saja. Baiknya sih di tiap sisi atau jarak beberapa meter, ada petugas yang siaga. Mengingat tempat ini sangat besar dan terbagi menjadi beberapa wilayah. Kalau tersesat sih mungkin tidak terjadi, tapi apa salahnya pengamanan penjagaan lebih diperbanyak lagi. Mana tahu ada yang kesulitan mencari jalan.

Ditambah lagi aroma kurang sedap yang timbul. Bisa jadi karena timbunan sampah. Sampah seolah menjadi topik yang tak pernah berhenti. Meskipun sudah dilakukan perbaikan, tetap saja masih banyak sampah yang berkeliaran. Mungkin prilaku buang sampah sembaranganlah yang masih belum terjaga dengan baik.

Tapi tak hanya menilai dari sisi buruknya, aku pun tetap menikmati keindahan yang kudapat. Disini disediakan penginapan, jadi pengunjung yang ingin menikmati suasana malam pun bisa saja menginap disini. Bentuk penginapannya cukup unik, seperti atap saja, tanpa badan bangunan. Hanya berbentuk segitiga dengan tinggi kurang lebih 3 meter dan luas ruangan kira-kira 9 sampai 12 meter. Sialnya ada saja kekurangannya, jalan yang berbentuk jembatan, sudah ada yang menegangkan. Ada beberapa kayu yang terlepas dari paku. Jadi kalau diinjak ya kayu pun terangkat. Ada pula kayu yang rapuh, diinjak langsung berbunyi “kreekkk”. Ohh tidaaakkkkk. Aku hanya membayangkan saat aku lewat, aku terjatuh karena kayu itu. Sakitnya mungkin tak seberapa, tapi malunya itu loh. Belum lagi bau yang menempel nantinya, dan warna hijau air serta kotoran ikan yang menempel #iuhh. Yap, di perairan Mangrove ini pun diisi dengan ikan-ikan air tawar.

Sorotan matahari sangat tajam di pintu masuk kamar penginapan
Sorotan matahari sangat tajam di pintu masuk kamar penginapan
Penginapan yang ada di atas air
Penginapan yang ada di atas air

Kekecewaan ini tak boleh ku biarkan. Aku harus mengabadikan gambar-gambar saat melintasi tempat-tempat yang terlihat bagus. Berfoto-foto setiap melihat tanaman Mangrove yang baru ditanam, Mangrove yang sudah besar, hingga pemandangan Mangrove dari atas pun aku abadikan.

Penampakan hutan Mangrove jika dilihat dari atas
Penampakan hutan Mangrove jika dilihat dari atas
Penampakan hutan Mangrove jika dilihat dari atas
Penampakan hutan Mangrove jika dilihat dari atas
Penampakan hutan Mangrove
Penampakan hutan Mangrove
Area pembibitan
Area pembibitan
Area pembibitan
Area pembibitan
Jembatan besar (belakang) itu memikat pengujung meskipun silau
Jembatan besar (belakang) itu memikat pengujung meskipun silau
Perjananan menuju area konservasi burung
Perjananan menuju area konservasi burung

Entah prilaku siapa yang salah yang menyebabkan tempat ini kurang baik. Jika karena manajemen, semoga saja manajemen segera memperbaiki kualitas tempat wisata ini. Jangan sampai semakin memburuk dan pengunjung semakin menurun. Kemudian jika salah pengujung, semoga saja pengunjung semakin sadar akan pentingnya alam yang indah. Turut membantu dan menjaga kelestarian alam. Dimulai saja dari hal yang sederhana, dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat. Bayangkan saja kalau setiap tempat wisata hanya tumpukan sampah saja yang ditemukan, tentu tak ada menariknya untuk dikunjungi lagi bukan?

12 respons untuk ‘Hanya Ada Pantai Kusam dan Sampah Menggunung

  1. ini di Jakarta? hihihi ketauan belum pernah kesana aku. Sayang sekali ya mangrove ini dibuat untuk mengatasi global warming tapi kelestariannya tidak di jaga apalagi banyak sampah seperti itu

    1. Iya mba, di PIK. Lumayan jauh sih dari pintu tol.
      Iya sayang banget, tujuannya sih udah bagus untuk mengatasi global warming, tapi sayangnya malah jadi tempat tumpukan sampah gitu. Jadi terkesan gak terawat.

  2. mudah-mudahan bisa lebih dipercantik dan dirawat yah tempatnya. bukan hanya soal estetika, tapi juga dampak yang bisa ditimbulkan kalau banyak sampah menggunung

  3. hutan mangrove kalo dilihat dari atas kayak di film anaconda.. foto yang kelima.. kalo baca ceritanya saya juga turut kecewa kalo gitu, apalagi tentang burung yg gak rame berkicau karena cuman ada satu yang warna putih, juga tentang kandang monyet yang ada 2 ekor, dan juga tentang binatang kesukaan kamu kelinci, terus juga mengenai sampah.. Tapi foto-fotonya indah kecuali yg ada foto sampah… hehehehehehehe 🙂

    1. Hehehe berarti nanti Indonesia bisa bikin film anaconda juga ya mas 😛
      Kalau untuk foto memang banya view yang bagus kok mas, jadi kurang menarik aja kalau ada sampahnya heehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s