Surat Terakhir Untuk Ayah

IMG-20170829-WA0002

Dan kami mulai menjalani kehidupan yang baru. Hanya sepatah kalimat inipun, rasanya udah gak sanggup untuk melanjutkannya. But, i want to give you one last letter, Yah.

40 hari sudah, Ayah meninggalkan kami. 40 hari sudah, kami tak mendengar sapaanmu. 40 hari sudah, hati kami serasa bergoncang hebat. 40 hari sudah, kami selalu teringat akanmu. Dan 40 hari sudah, kami berjuang untuk mengikhlaskanmu. Lagi-lagi, aku ingin menghentikan tulisan ini. Tetiba dada ini sesak, jari pun gemetar, dan butiran air mata jatuh lagi.

Aku sadar betul, engkau tak mungkin membaca suratku ini. Jangankan untuk membuka internet, membuka matamu pun engkau pasti sudah tak sanggup. Tapi aku yakin hatimu selalu hidup untuk kami. Terima kasih sudah datang ke dalam mimpiku dan memberiku senyuman indah dan kerlipan mata di hari ke-17 kepergianmu, Yah. Sepertinya aku tahu, kalau kau ingin berkata “jangan sedih, karena aku sudah sembuh”.

Ayah, genggamanku melemah saat aku melihat semua angka 0 (baca: nol) di dalam layar medismu. Jantung, nadi, dan napasmu sudah tak terdeteksi lagi. Meskipun dibeberapa detik sebelumnya engkau mengangkat kedua tanganmu seraya menarik napas 2 kali. Orang-orang yang ada di depan ruang ICU itu pun bahagia, karena menganggap engkau akan sembuh. Termasuk mama dan adik, mereka pun tersenyum simpul saling memeluk dan tak sabar ingin bertemu engkau. Tapi aku yang ada di dalam ruang ICU itu, aku bingung harus tersenyum atau menangis. Aku bahagia, karena kau terlepas dari beban sakitmu, tapi aku pun sedih ketika sadar engkau benar-benar sudah tidak ada lagi.

1 Juli 2018 pukul 18.00 WIB, menjadi hari terakhir kami memelukmu, dan 2 Juli 2018 pukul 01.00 dini hari, menjadi hari yang tak terlupakan bagi kami yang mengantarmu ke tempat peristirahatanmu. Tak ada lagi air mata malam itu, ikhlas dan bahagia melihat kau sudah sehat menjadi pilihan yang tepat. Menguatkan diri menjadi lawan terberat, dan mencoba tegar menjadi musuh yang hebat. Kami pun mengikhlaskanmu, Yah. Bulan Juli harusnya menjadi bulan kebahagiaan bagi kami, karena kedua anakmu berulang tahun di bulan ini. Namun tidak untuk Juli 2018, bahagia itu tetap ada, tapi tak sebahagia jika ada dirimu disisi kami. Namun kami bahagia, karena kau sudah tak menderita lagi, Yah.

Aku bahagia, Yah.
Bahagia karena aku ada di sampingmu dan menggenggam tanganmu, seraya berdoa untukmu, ketika kau menghembuskan napas terakhirmu. Aku pun bahagia, sebab aku sudah memandikanmu menjelang saat-saat terakhirmu sebelum operasi. Aku bahagia saat aku dapat mencium keningmu, meskipun kau sudah pergi. Yang pasti aku bahagia, sebab selesai sudah penderitaanmu, Yah.

Kalau saja malam itu, 18 Mei 2018, pukul setengah 11 malam kucingku tak membangunkanku, aku tak akan mendengarmu memanggil sambil menahan sakit. Kalau saja malam itu kami tak bergerak cepat, mungkin malam itu menjadi malam terakhir pertemuan kami. Itu yang dokter katakan kepada kami, Yah. Tuhan memang baik, karena masih memberikan kami kesempatan untuk menjagamu hingga hampir 2 bulan berikutnya. Harapan demi harapan, doa demi doa, kami panjatkan. Memohon kesembuhan dan memberikan kesempatan kepadamu untuk dapat berkumpul bersama kami lagi.

Semasa hidupmu, engkau dikenal dengan seseorang yang hobi memancing dan pendiam. Kau tak ragu berbagi ikan hasil pancingan kepada teman-temanmu yang tak mendapatkan ikan. Kau pun tak ragu membagi ilmu memancing dan kau rela berkata banyak. Sabtu atau Minggu sore, biasanya kau pulang pukul 18.00 WIB, dan langsung bergegas membersihkan ikan tangkapanmu. Setelah itu biasanya kami makan malam bersama dengan ikan goreng sambal kecap yang kau buat. Ohh God, sekarang kami harus membeli ikan mas untuk di goreng.

Ternyata kau begitu mencintaiku, Yah. Kau terus saja memanggilku “Nang/Inang” hingga saat terakhirmu. Bukti cinta nyata darimu yang tak pernah ku lupakan. Kenanganmu tak berhenti disitu, Yah. Aku jadi teringat, saat aku kelas 3 SMA, aku begitu merindukan gendonganmu. Sampai aku pura-pura tertidur di depan televisi, dan kau pun menggendongku ke kamar, dan menutup pintu kamarku. Itu yang selalu kau lakukan padaku sedari kecilku. Namun aku sadar, tubuhku sudah besar dan berat, dan pasti sulit bagimu untuk menggendongku rutin setiap malam. Jadi ku malkumi ketika di malam-malam berikutnya kau hanya membangunkanku yang tertidur di luar kamar.

Aku pun ingat betul kau selalu menjagaku, dan tak membiarkanku jajan sembarangan. Hanya boleh susu, roti, biskuit, dan wafer cokelat. Selebihnya, kau pasti akan memberiku tatapan beku yang dingin bagaikan salju. Masih ingatkah engkau betapa kau suka melihatku berambut panjang? Ya, dan aku takut memotong rambutku menjadi pendek karena tak mau uang jajanku pun ikut terpotong. Sampai-sampai aku menempelkan permen karet di rambutku dan berkata bahwa “aku kejatuhan permen karet, Yah, makanya aku potong rambutnya” love! Aku begitu mencintaimu.

Ayah, meskipun tubuhmu sudah tak lagi bersama kami, kami yakin betul hatimu selalu ada bersama kami. Ketulusan dan kepolosanmu, menjadi bekal untuk kami di kemudian hari, Yah. Terima kasih sudah membuat aku ada di dunia ini. Terima kasih sudah mengajarkan banyak hal kepada kami. Terima kasih sudah bahu-membahu bersama mama untuk menafkahi dan menyekolahkanku hingga tinggi. Namun 2 yang belum kau turunkan padaku, Yah, skill menyetirmu dan keahlianmu pada mesin mobil. Aku sungguh menyesal tak serius mempelajarinya.

Teriring doa kami panjatkan untukmu, Yah. Semoga kau tenang di surga, bersama Tuhan hidup bahagia. Sampai bertemu di mimpi-mimpiku berikutnya, dan semoga kita pun bertemu di surga. Amien..

Iklan