Berani Mengkhayal Itu Baik

Kalau biasanya kita dengar “berani kotor itu baik” kali ini yuk coba ubah kata “kotor” dengan “khayal”. Sama seperti berani kotor, berani berkhayal pun juga menjadi suatu risiko. Kenapa? Hati-hati jadi terobsesi, nanti malah jadi gak waras, hehe..

Saya selalu berpendapat, mimpilah setinggi-tingginya, supaya kalau jatuh ya jatuh di tengah. Kalau mimpinya hanya sampai tengah, kalau jatuh ya ke bawah, sakit. Tapi banyak juga yang gak setuju dengan pendapat saya ini.

Konsepnya sederhana. Kamu tahu anak kecil kan? Bagaimana mereka berprilaku? Mereka sering sekali melakukan sesuatu yang sebenarnya berbahaya. Tetapi anak kecil jarang menyadari bahaya itu, dan mereka nekat, hingga akhirnya berhasil.

Simpelnya lagi, waktu kecil kita pasti ingin bisa berjalan. Sehingga kita akan terus mencoba, mulai dari belajar duduk, merangkak, merembet, melangkah kecil, dan berlari. Lhoooo kok langsung berlari? Gak ngeh yaaa?
Iya, banyak anak kecil yang lebih senang berlari, ya meskipun hanya berlari-lari pelan, meskipun dia tau bahwa untuk berjalan saja masih sempoyongan.

Konsep itulah yang saya ingat. Anak kecil tidak tahu apa risikonya berlari. Yang dia tahu, ketika dia berlari, ternyata dia terjatuh, sakit, menangis, tapi gak kapok, dan hal itu dia lakukan berulang-ulang hingga dia bisa mengontrol dirinya sendiri untuk berjalan. Sambil berlari-lari kecil, dia akan mengontrol emosinya, hingga akhirnya pandai berjalan.

Bagaimana dengan berkhayal?
Saya memang tidak ingat apa yang saya pikirkan ketika saya masih kecil dulu. Tapi jika saya prediksikan, mungkin dulu saya berkhayal untuk bisa berjalan seperti orang-orang yang ada di sekitar saya. Saya ingin berlari untuk menyamakan panjangnya langkah saya dengan orang-orang yang berada di sekitar saya. Jika dihubungkan dengan khayalan, itulah yang saya bilang baik. Jika saya tidak berkhayal untuk segera bisa berjalan, mungkin tidak akan saya lakukan.

Banyak orang yang berkata “jangan mengkhayal tinggi-tinggi, nanti kalau gak kesampean malah kecewa”. Bagi saya kecewa adalah bagian dari proses. Bagaimana kita tahu kalau itu “benar” kalau kita tidak tahu mana yang “salah”. Bagaimana kita tahu kalau itu “bagus” kalau kita tidak tahu mana yang “jelek”. Bagaimana kita tahu kalau itu “baik” kalau kita tidak tahu mana yang “buruk”. Iya kan?

Coba kamu lihat lagi latar belakang orang-orang hebat di Indonesia ini. 2 orang yang sangat inspiratif bagi saya adalah Bapak B. J. Habibie dan Bapak Bob Sadino. Saya sangat mengagumi beliau. Tahukah kamu bagaimana Pak Habibie tidak dianggap oleh orang-orang? Dan tahukah kamu sehebat apa Pak Habibi sekarang? Sosok yang menjadi orang kehormatan di luar negeri, bukan hanya negerinya sendiri. Kemudian tahukah kamu perjuangan dan kreatifitas Pak Bob Sadino? Hemm sebenernya sih enakan manggil om ya 🙂 Dimulai dari menjual telur yang akhirnya di kreasikan dengan bunga, hingga akhirnya bisa menjadi tokoh pengusaha inspiratif di Indonesia. Mau seperti mereka? Cobalah berkhayal!

Yang harus diingat adalah, khayalan harus disesuaikan dengan usaha. Jangan lupa juga, kuatkanlah mental. Untuk mewujudkan khayalan, hukum alam pun berlaku, hukum roda pun berlaku. Khayalanmu akan membawamu ke beragam proses. Kamu akan ada di atas, jatuh ke bawah, diam di tengah, bocor, ditambal, hingga kembali lagi ke atas, dan begitulah berulang-ulang. Ketika sudah di atas apakah kamu bisa tenang? Tidak! Khayalkan kembali cara berikutnya untuk kamu bisa terus ada di atas.

Meluruskan lagi ya, Manteman. “Atas” yang kamu pikirkan, belum tentu sama dengan “atas” yang orang lain pikirkan. Begitu juga dengan “bawah atau jatuh” yang kamu pikirkan, belum tentu sama dengan “bawah atau jatuh” yang orang lain pikirkan.

Jadi mulai sekarang, yuk coba rangkai mimpi kamu setinggi mungkin. Tapi ingat, siapkan juga mentalmu sebaik mungkin. Gunanya untuk menghadapi proses kegagalan yang akan terjadi.

Btw, sebenarnya tulisan ini sudah 3 hari yang lalu ready tayang. Cuma masih ragu karena menurut saya kurang “dalam” lagi. Tapi ada kabar duka, tokoh inspiratif bagi saya, berpulang ke sisi Tuhan, iya, Pak B. J. Habibie. Selamat jalan, Pak, jasamu akan selalu ku kenang..

Iklan