Perubahan Arti dari Bobot Sebuah Nilai

Suatu ketika, saya diprotes melalui email oleh salah satu mahasiswa. Katanya, “Bu, kenapa nilai saya hanya 85? Bolehkah saya minta penjelasan?”. Dalam hati saya, “Wah, berani betul bertanya seperti itu, padahal saya bisa saja hanya memberinya nilai 50 bahkan 0”.

Nilai menjadi bobot yang paling diperhatikan dalam institusi pendidikan. Sejak dulu, bobot nilai sangat penting dan menjadi jalur penentu utama, akan kemana kita setelahnya. Jika nilai yang kita peroleh tinggi, tentu kita bisa melanjutkan ke institusi pendidikan yang kita inginkan. Sebaliknya, jika nilai kita rendah, maka jangan berharap kita bisa masuk ke institusi favorit yang kita inginkan.

Saat saya bersekolah dulu, untuk mendapatkan nilai 70 saja sudah sangat susah, dan ketika itu juga saya merasa bersyukur karena nilai itu tidak membawa saya pada fase remedial. Sedangkan untuk nilai 85, biasanya didapatkan oleh anak-anak pintar yang biasa menerima nilai dengan predikat B+ atau A-. Sedangkan nilai A sangat sulit didapatkan, apalagi A+.

Namun sepertinya bobot sebuah nilai saat ini menjadi berbeda. Setiap siswa menginginkan nilai A. Tidak ada salahnya, wajar, dan sangat dimengerti. Tapi menjadi aneh ketika siswa tersebut tidak benar-benar memahami materi yang dipelajari dan menuntut untuk bobot nilai yang sempurna. Salah satunya, mahasiswa yang saya ceritakan di awal pembuka.

Alasan saya memberikan nilai 85 tidak sembarang. Pada sebuah soal yang saya berikan, mahasiswa ini menjawab secara copy-paste dari sumber yang ia dapatkan, plek-ketiplek dan tanpa diubah sedikit pun. Saya ingat betul dosen saya pernah berkata, “Tidak ada salahnya mengcopy jawaban dari sumber yang kita dapat, tapi kata-katanya harus diubah dengan bahasa kita sendiri, dengan kata lain kita sudah benar-benar memahami atau minimal membaca jawaban yang kita tuliskan itu”. Dalam disclaimer penilaian pun dituliskan, “Jika diketahui jawaban copy-paste maka akan diberikan nilai 0″.

Langkah awal dalam memberikan nilai dari sebuah tugas yang saya berikan kepada mahasiswa adalah mengecek apakah jawaban yang ia gunakan dari hasil olahan pemikirannya atau hanya sekedar menempelkan jawaban dari sumber utama. Dilalahnya, saya menemukan jika jawaban mahasiswa ini hanya sebuah tempelan saja. Namun hati saya pun tak setajam selembar silet, saya masih menghargai mahasiswa ini yang sudah effort mencantumkan jawaban, jadi saya pertimbangkan untuk memberikan nilai hanya 85, bukan 50, bahkan 0.

Saat itu saya berpikir, jawaban apa yang mesti saya berikan kepada mahasiswa ini? Akhirnya saya pun memutuskan untuk jujur, dan menjawab “Saya menemukan jawaban yang Anda berikan adalah hasil copy-paste dari sumber X. Bisakah Anda menjawab menggunakan bahasa Anda sendiri?”. Saya tunggu hingga beberapa hari kemudian, tidak ada lagi balasan email dari mahasiswa tersebut.

Tapi saya tidak puas diri, justru saya berpikir, apakah saat ini bobot 85 menjadi nilai yang tidak cukup melegakan bagi para pelajar? Jadi berapa nilai yang cocok diberikan bagi mereka, sesuai dengan kapasitas pengetahuan yang mereka miliki? Karena sampai sekarang pun, saya masih merasa bersyukur jika ada orang lain yang memberikan saya nilai dengan bobot hanya 85. Sebab saya merasa “Ohh ternyata kemampuan saya masih di angka 85, bagaimana caranya mencapai angka 90 ya?”. Itulah yang sibuk saya pikirkan, bukan dengan kembali mempertanyakan kepada guru saya, mengapa nilai saya hanya 85.

Tinggalkan komentar

Saya Pista

Mungkin kamu bisa mengenal saya lebih jauh, melalui SAJAK ASAL punyapista. Yuk dengarkan!

Let’s connect