Lupa Diri Karena Budaya Ngobrol Saat Berkendara

B6PkIsOIYAAujGa
Belakangan ini pasti kita sering melihat banyak pengendara yang “ngobrol” sambil berkendara. Ngobrol memang bisa menghilangkan rasa ngantuk saat berkendara. Tapi masalahnya, ngobrol saat berkendara sering mengganggu kenyamanan pengguna jalan lain. Dalam hal ini, ngobrol bisa dibagi menjadi empat kategori, yaitu : ngobrol dengan penumpang kendaraan, ngobrol dengan alat bantu seperti seluler, ngobrol dengan pengendara lain, bahkan ngobrol dengan diri sendiri.

Ngobrol atau berbincang-bincang dengan orang lain memang bukan hal yang aneh bagi kumpulan masyarakat. Berbincang-bincang tentu dapat dilakukan dimana saja, bahkan banyak media sosial yang memberikan fasilitas ngobrol jarak jauh dengan mudah. Saat ini perbincangan tak lagi hanya dilakukan secara langsung dengan bertemu saja, namun bisa menggunakan layanan internet yang menghubungkan si eksekutor satu dengan yang lainnya. Mereka tetap dapat bertatapan dan berbincang langsung menggunakan layanan video telepon atau sebagainya. Namun bagaimana jika aktivitas perbincangan ini dilakukan saat berkendara? Mungkin akan menganggu sebagian pengguna jalan.

Ada beberapa tingkah laku pengendara yang asik mengobrol yang menimbulkan kerugian bagi pengguna jalan lain. Misalnya si pengendara dengan tiba-tiba memperlambat bahkan mempercepat laju kendaraannya. Tak jarang pula si pengendara keluar dari jalur jalannya, misalnya ada pada jalur tengah dan tiba-tiba tak sadar berpindah ke jalur kanan atau kirinya. Kemungkinan lainnya yang terjadi pada pengendara berbeda kendaraan yang mengobrol di jalan, tentu kendaraan mereka akan berjajar berdampingan dan itu cukup mengganggu pengguna jalan lain. Bagaimana tidak, sudah mengobrol di jalanan, berdampingan, dan terkadang memperlambat laju kendaraan yang menyebabkan kemacetan.

Ketidaknyamanan pengendara lain akan hal ini memang menjadi salah satu faktornya. Dimana pengendara lain mungkin akan terlihat emosi dengan mendahului kendaraan lain, atau memaki kendaraan tersebut. Berdasarkan pengalaman “melihat” saya, katakanlah pengendara yang asik mengobrol adalah Acun dan Ucin, kemudian pengendara yang tersulut emosinya adalah Acin. Saat Acun dan Ucin asyik mengobrol berdampingan di pinggir jalan sambil memacu kendaraannya, ternyata itu cukup memakan bahu jalan. Selain itu mereka juga memperlambat laju kendaraannya agar suara antara Acun dan Ucin dapat terdengar satu sama lain. Tak sadar membuat kemacetan, Acin yang berada tepat di belakang Acun dan Ucin pun kesal. Acin memilih untuk mengeber-geberkan knalpot kendaraannya dan mencari celah untuk mendahului Acun dan Ucin. Tak terima dengan tindakan Acin, Acun dan Ucin pun membalasnya dengan menggeber-geberkan pula knalpot kendaraannya.

Melihat kelakuan Acuh dan Ucin, Acin pun makin tersulut emosi dengan memaki kedua pengendara tersebut. Hal ini menimbulkan makian lagi dari Acun dan Ucin, mereka yang tak sadar telah mengganggu pengendara lain terlihat tak mau kalah. Saking tidak terimanya, mereka bertiga malah adu kecepatan di jalan raya, yang saya anggap cukup padat. Bagaimana kelanjutannya pun saya tidak tahu, karena mereka bertiga berada jauh di depan saya.

Dalam hal ini sebenarnya lebih kepada kesadaran para pengguna jalan, terutama yang senang berbincang-bincang di jalanan. Namun adakah peraturan yang mengatur kejadian ini? Adakah hukum-hukum yang mengatur perkara ini? Akankah pelaku dikenakan sanksi oleh pihak yang berwajib? Dan siapa yang patut disalahkan dalam hal ini?

Seandainya para pengguna jalan sadar bahwa berbincang di jalan raya terkadang suka mengganggu pengendara lain. Pengguna jalan sebaiknya meminggirkan mendaraannya jika memang mau mengobrol dengan pengguna jalan lain. Jika pengendara berboncangan atau berpenumpang sedang asik mengobrol, sebaiknya tetap memperhatikan kecepatan laju kendaraan serta posisi kendaraannya.

Kopipes :

Lupa Diri Karena Budaya Ngobrol Saat Berkendara | http://ow.ly/GDt80 | @hukumpedia http://ow.ly/i/87bjK

Iklan