Mengenalkan Sejarah Pada Adik Kecilku Lewat Komik Sang Pariot

Senyam-senyum cengar-cengir aku menatap mejaku Jumat siang. Kenapa? Karena aku melihat 1 buah buku yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Buku ini tidak ku beli di toko atau memesan online, tapi aku dapatkan dari salah satu penulis dan praktisi hukum kece bernama mba Irma Devita. Ya, beberapa waktu yang lalu aku sempat mengunjungi kediaman beliau dengan beberapa tujuan, hehe. Kemudian beliau berjanji untuk mengirimiku komik dari novelnya yang saat ini sedang ngehitzzz.

Pernah dengan novel “Sang Patriot”?

Ini adalah sebuah novel yang menceritakan masa perjuangan Indonesia menjelang dan pasca kemerdekaan. Dalam novel ini mba Irma survey langsung menemui narasumber dan keluarganya. Mengunjungi langsung sambil bercengkrama beliau lakukan untuk memaksimalkan keabsahan isi cerita di dalamnya.

Untuk meningkatkan minat baca sejarah pada anak, mba Irma sengaja membuat cerita tersebut dalam versi komik. Tapi tak hanya anak, aku pun suka sekali membaca komik. Selain tulisannya yang singkat, gambar yang ada pun akan menggambarkan isinya lebih tajam. Goresan karakter dan kejadian semakin meningkatkan daya hayal dan membuatku seolah ada di dalamnya. Nahhhhh, dari 1 novel kece ini, menghasilkan 3 seri komik. Yeapyy aku udah punya seri pertama dong.. haha

1507014_10203927426609248_8908089526134597318_n

Di seri pertama ini, menceritakan tentang perjuangan 3 orang hebat. Pertama adalah Letkol (Inf) Moch. Sroedji. Beliau adalah seorang pria berpendidikan tinggi yang menjadi Komandan Brigade III Damarwulan Divisi I Jawa Timur. Beliau adalah sosok yang pemberani, ditakuti lawan, dan disegani kawan. Beliau sebagai pemimpin pasukan alap-alap mampu memimpin ribuan pasukan untuk melakukan perlawanan dan mempertahankan kemerdekaa Indonesia di era 1942 – 1949. Beliau dan pasukannya mampu memberikan serangan yang bergelombang tiada henti, datang dari segala arah, menyambar, mematuk, dan menghujam mangsa, seperti elang yang kokoh dan garang.

Kedua adalah Letkol dr. RM Soebandi. Seorang dokter berasal dari ningrat Jawa ini teguh memegang sumpahnya sebagai dokter penyembuh meski sedang ditodong musuh. Beliau sering larut tenggelam dalam dunianya sendiri saat berhadapan menolong pasien. Beliau tetap berusaha untuk menolong pasiennya meskipun kepalanya sudah ditodongi senjata oleh para musuh, dengan harapan musuh paham etika peperangan, bahwa tidak boleh menyerang tenaga medis yang sedang menjalankan tugas.

Ketiga adalah Mas Roro Roekmini Sroedji. Seorang wanita beruntng yang bisa mendapatkan pendidikan tinggi karena keturunan ningrat. Namun beliau tau manja, beliau sangat kuat dan bertekad besar untuk selalu mengejar dunia pendidikan. Hingga pengejarannya berhenti ketika beliau dinikahkan oleh lelaki pilihan orang tuanya. Cinta besarnya kepada sang suami dan keluarga mampu membuatnya rela meninggalkan segala kenikmatan pendidikan dan cita-citanya sebagai ahli hukum. Beliau adalah tokoh wanita kuat yang ada di balik perjuangan Letkol Moch. Sroedji.

Kejamnya penjajahan masa itu membuat bangsa Indonesia geram dan berjuang mati-matian untuk merdeka. Namun kemerdekaan yang diberikan bagaikan omong kosong belaka. Indonesia masih banyak mendapatkn serangan. Saat Belanda kalah oleh Jepang, rakyat direkrut habis-habisan untuk dilatih militer dengan perlakuan yang sangat kejam. Letkol Moch. Sroedji yang ditunjuk sebagai chuundanchoo (Komandan Pleton) selalu memberikan semangat kepada para rekan-rekannya.

“Perang terbesar bukanlah melawan musuh, Mur. Perang terbesar adalah perang melawan diri sendiri. Kita harus punya satu tekad baja. Kita harus kalahkan dulu diri kita, baru bisa mengalahkan musuh. Kita harus menjadi Perwira yang tangguh, Mur.. Harus!! Demi bangsa kita, Mur.. Anak cucu kita, mereka tidak boleh mengalami masa kegelapan seperti yang kita alami, Mur.” Peringatan beliau kepada seorang sahabatnya yang terkapar dan hampir menyerah dalam menjalani pendidika militer ala tentara Jepang.

Hingga tiba dimana tentara Inggris menapakkan kakinya ke tanah Jawa, tepatnya di Surabaya. Mereka datang untuk melucuti persenjataan tentara Jepang, membebaskan para tawanan, dan memulangkannya ke daerah masing-masing. Namun kedatangan mereka tak bermaksud melonong Indonesia, malah melumpuhkan wilayah Surabaya. Perlu waktu 3 bulan untuk menguasai Surabaya, jauh dari target mereka yang hanya dalam waktu 3 hari.

“Perang Surabaya menjadi titik balik kepercayaan diri bangsa Indonesia dan membentuk keyakinan baru untuk bersatu-padu melawan segala bentuk penjajahan” jelas semangat pejuang pada masa itu.

Kisah berjuangan dalam komik ini memang belum tuntas, namun terlihat betapa besarnya semangat bangsa Indonesia saat itu untuk merdeka. Mereka tak takut mati, karena bagi mereka mati membela itu tak sia-sia. Bahkan ada prajurit yang nekad menghampiri tank lawan untuk menjatuhkan bom kedalamnya, hingga akhirnya bom itu meledak dalam kepalan tangannya. Cerita dalam komik ini pun belum selesai, masih ada 2 seri lagi yang akan terbit segera. Duhh jadi gak sabar naca seri kedua dan ketiganya hihi.

Selesai aku membaca komik “Sang Patriot” seri 1 ini, datanglah sepupu kecilku yang baru belajar membaca.

“Wuih buku apa nih, Ka?” Tanya sepupuku kepo melihat cover buku yang keren banget karya mas Aan Budi Sulistyo.

“Ohh itu kisah perjuangan waktu penajajahan dulu, De.. Baca aja” jawabku singkat.

“Iya aku pinjem ya..” izinnya padaku, dan tentu aku pinjamkan buku itu pada si adik kecil.

Aku sesekali tertawa mendengarkan dia membaca. Heboh banget, beda sama aku, tapi mungkin dulu waktuku kecil cara membacaku seperti dia. Gimana gak lucu, baru beberapa kata dia baca, tetiba dia langsung berteriak “wuih ada kapal orangnya banyak banget”, “yah jatoh semua deh (sekeranjang kubis)”, “ihh ada tank”, “loh kok benderanya ada banyak, ini bendera apa aja?”, “wah tembakan (senapan)”, “wah pedang (samurai)”, “Wah seru nih berantem (perang)”, dan yang terakhir ku dengar adalah “yah abis” itu adalah kata spontannya saat ia membaca tulisan bersambung di bagian bawah halaman. Hahaha..

“Aku pinjem lagi dong yang kedua, Kaa” pintanya.

“Seri dua sama tiga nya belum terbit de, nanti ya kalo udah ada aku kasih pinjem deh” jawabku untuk menghibur rasa penasarannya.

Serunya mengenalkan sejarah kepada anak kecil. Mereka antusian membaca dan mengartikan gambar-gambar yang ada. Bahkan bisa dibilang mereka akan fokus sekali menikmati beragam gambar yang ada di tiap halamannya. Sejarah yang biasanya enggan didengarkan karena isinya hanya rangkaian kata panjang yang membosankan dan banyak hapalan, dengan dijadikan komik tentu tidak mebosankan lagi. Semoga mba Irma Devita akan membuat komik-komik sejarah selanjutnya, agar anak-anak kecil semakin minat dan mengerti nilai sejarah yang Indonesia punya.

Atau mungkin para petinggi Negara yang lupa atau mungkin tidak tau adat perjuangan para pahlawan akan tertarik membacanya *eyah sedikit curcol, maklum belakangan ini para petinggi Negara sibuk memperkuat dirinya dan dompetnya* hihi.

Yang pasti aku mau mengucapkan terima kasih kepada mba Irma Devita yang memberiku 1 seri komik yang sangaaaatttt keren. Terima kasih mba Irma mau meningkatkan pola baca sejarah kepada masyarakat hingg anak dengan komik ini. Ini adalah inovasi yang keren dan tidak membosankan bagi anak-anak pastinya. Suskes terus ya mba Irma 🙂 Salam peluk, Mak 😀

Iklan