Rakyat Butuh Dari, Oleh, Dan Untuk Rakyat

B6PlTWvCEAAukte
Bagi beberapa orang yang pernah berbuat kesalahan, memang sulit untuk memperbaiki citranya kembali. Apapun kesalahan yang pernah di perbuat, dan terpublikasi oleh masyarakat, akan menjadi cemoohan sehari-hari. Tak tanggung-tanggung, bahkan hingga orang tersebut telah berbuat baik pun, tetap saja tak semua orang mampu menerimanya. Alih-alih perbuatan baiknya hanya dijadikan kedok untuk memperbaiki citranya.

Untuk keikhlasan seseorang berbuat baik, memang tak semua orang dapat menilainya dengan baik. Ada beberapa orang yang memang sengaja berpura-pura berbuat baik untuk sekedar memperbaiki cintra hingga menarik simpati masyarakat. Namun ternyata tak jarang pula seseorang memang tulus berbuat baik, dan kesalahan di masa lalunya dijadikan pelajaran bagi dirinya sendiri, dan menjadi motivasinya untuk maju. Namun hal ini tidaklah mudah. Survey membuktikan (denger di televisi), katanya manusia lebih cepat merespon kejadian negatif dibanding kejadian positif, begitu juga dengan daya ingatnya. Dan ironisnya, seseorang yang berbuat baik, tak lantas dianggap baik pula oleh orang lain.

Saat ini sedang marak dengan kampanye para calon pemimpin Indonesia selanjutnya. Banyak partai-partai politik yang bertingkah laku baik demi menarik simpati masyarakat. Para calon legoslatif rela turun ke jalanan, turun langsung menghadapi masyarakat, rela makan bersama dipingir jalan, rela berpanas-panasan hingga kehujanan bersama masyarakat sekitar.

Pemandangan ini tentu jarang kita lihat, dan marak hanya pada masa kampanye saja. Tak ubahnya seperti prakata diatas, pemandangan ini kerap kali dinilai sebagai perbaikan citra atau sekedar menarik simpati masyarakat. Masyarakat di lingkungan kampanye terlihat senang dan mengikuti acara bersama calon pemimpinnya yang sedang berkampanye. Warga rela panas hingga kehujanan demi mempromosikan si calon pemimpin.

Dari tahun ke tahun periode pemilihan, sudah pasti ada prosesi kampanye yang menurut saya mengganggu pemandangan. Spanduk partai dimana-mana, poster berserakan di pepohonan hingga tiang listrik. Puncaknya, pawai keliling membuat jalanan semakin macet dan terpaksa mempersilahkan rombongan untuk berjalan lebih dahulu untuk selanjutnya berhenti di salah satu panggung hiburan. Di panggung ini, sudah disediakan music andalan (dangdut) yang katanya adalah musik rakyat. Calon pemimpin pun tak ragu untuk bergoyang di depan caln rakyatnya.

Pemandangan ini kah yang diharapkan oleh masyarakat?

Menurut saya, hal itu bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh masyarakat. Rakyat butuh pemimpin yang benar-benar bertanggung jawab. Rakyat butuh pemimpin yang akan membela rakyatnya dalam hal pendidikan dan pekerjaan serta pendapatan, bukan hanya bersenang-senang dan bergoyang diatas panggung musik dangdut. Rakyat butuh pemimpin yang mensubsidi bahan bangunan dan menjaga stabilitas harga tanah, bukan hanya sekedar turun ke jalanan untuk mengelus tangan rakyat. Anak-anak butuh kepastian pendidikan yang sangat layak dan berkualitas, bukan hanya sekolah gratis sampai tingkat tertentu dan beratapkan bilik bambu yang mampu meneteskan rintikan hujan.

Kegiatan “blusukan” tah hanya harus dilakukan saat kampanye saja. Seharusnya lebih dimaksimalkan dan memang benar-benar murni untuk rakyat. Bukan untuk meningkatkan kepercayaan rakyat agar memilih calon tersebut. Bukan untuk memperbaiki citra pribadi, namun benar-benar untuk memperbaiki kualitas Indonesia. Bukan sekedar menghamburkan uang untuk berkampanye, namun membantu masyarakat untuk membangun lingkungannya. Bukan untuk menghapus citra buruk, namun untuk berbakti kepada masyarakat. Sebagaimana arti dari demokrasi yang sesungguhnya. Dari, oleh, dan untuk rakyat.

Kopipes :

Rakyat Butuh Dari, Oleh, Dan Untuk Rakyat | http://ow.ly/GDv87 | @hukumpedia http://ow.ly/i/87bSu

Iklan