Resolusi 2019: Semoga Kasih Ini Tumbuh Kembali

heart-on-crushed-eyeshadows_23-2147710666

Mengakhiri 2018 kemarin malam, meskipun sebelumnya aku, ibuku, adikku, nenekku, dan kakekku, sempat menikmati hidangan makan malam bersama, namun setelahnya aku memilih untuk tidur dan membiarkan keramaian berlalu. Hingar-bingar letusan kembang api pun sama sekali tak membangunkan tidurku. Seolah hatiku menolak adanya keramaian.

Mungkin karena aku terlalu perasa baperan, jadi masih terasa duka di hati. Pada 1 Juli 2018 kemarin, ayahku dipanggil untuk pulang ke surga (amiennn), dan sampai saat ini masih sering teringat akan beliau, sosok yang selalu sok kuat di depan anaknya. Kepulangannya membuat hatiku sedikit membeku. Bukannya tak rela dia kembali ke tempat yang abadi, hanya saja aku begitu menyesal karena belum sempat mengajak beliau jalan-jalan, dan di akhir hayatnya pun aku tidak secara maksimal menjaganya dengan baik.

Lokasi pekerjaan yang jauh dan mengharuskanku ngekost, membuatku tak dapat bertemu dengannya setiap hari. Bahkan kami sempat bertengkar ketika aku memutuskan untuk pindah bekerja ke tempat yang jauh itu. Belakangan aku baru tahu ketika tanteku berkata “Ayah gak suka Icha kerja disana, karena jauh, kata ayah jadi gak bisa lihat Icha setiap malam, kalau Icha di sini (kerja di tempat sebelumnya) kan bisa pulang setiap hari, jadi ayah bisa lihat Icha setiap malam walaupun cuma sebentar”. Kalimat itu tak pernah ayahku ucapkan sebelumnya, dia takut apabila dia berkata demikian kepadaku, maka dia akan menghambat karir dan cita-citaku. Itulah yang aku sesali.

Pindah bekerja, untuk mengejar karir, dan dengan pendapatan yang lebih besar. Hingga aku tak cukup waktu di rumah, dan tak memerhatikan ayahku, sungguh aku menyesalinya. Tiba suatu malam, dia sakit, dan aku sempat menawarkan untuk berobat (fyi, dia rajin berobat sendiri kok), namun tubuh kurus itu menolak. Hingga aku meninggalkannya tidur. Hingga di tengah malam dia berteriak bahwa tak kuat, dan kami membawanya ke rumah sakit. Singkat cerita, dia harus dipindah ke rumah sakit yang lebih lengkap dan dirawat di sana hampir 2 bulan.  Aku? Hanya ketika libur saja dapat mengunjunginya. Sedihhh..

Hingga akhirnya aku memandikannya sebelum dia menjalani operasi, dan mengantarnya sampai di depan lift menuju kamar operasi. Dagdigdug gemetar hati sambil menunggu operasinya selesai, cukup lama, dimulai pukul 09.00 dan selesai pukul 14.30 WIB. Dia sadar dengan cepat, pukul 17.00 WIB dia sudah terbangun, dan bertanya apakah operasinya sudah selesai. Kami pun bahagia.

Hingga tiba beberapa malam setelahnya, dokter berkata bahwa ayahku pendarahan, dan dia mengusirku dari kamar ICU, aku tahu, karena dia tak ingin aku melihat kalau dia sedang kesakitan. Tak lama setelah itu dia pun hilang kesadaran, meskipun bertahan beberapa hari, dokter kemudian berkata “jika jantungnya kembali berhenti, kami tidak bisa berusaha lagi ya, Mbak, takut malah pendarahan di anggota tubuh lainnya, dan malah bahaya, di doakan saja”, dan ayahku pun kembali sehat seutuhnya. Tuhan sangat sayang padanya, hingga menyudahi rasa sakitnya.

Kata orang, jika seseorang sedang dalam keadaan stress berat, maka emosinya akan berlebihan. Gak terlalu lucu, tapi tertawa terbahak-bahak, namun akan diam kemudian. Gak ada yang nyenggol, tapi tiba-tiba sedih. Gak ada yang marah, kemudian muncul rasa kesal dan sesal. Huhft, galau, itulah rasanya saat ini, aku kehilangan..

Rasa kehilangan membuat rasa kasih di hatiku berkurang, banyak, mungkin hampir hilang. Aku tampil sebagai orang yang pendiam, dan tak peduli dengan sekitar. Jangankan sekitar, untuk diri sendiri pun kadang aku berpikir “ahh sudahlah, gak guna”. Sebenarnya aku tahu kalau itu salah, namun rasa kehilangan ini masih belum terobati. Meskipun aku tahu, sekarang ayahku sudah sangat sehat, lebih muda, lebih gemuk, dan sudah pasti sangat bahagia, namun rasa sesalku masih terlalu besar, mengalahkan rasa kasih yang selama ini ada.

Dan sampai saat ini, kasih itu masih berkurang.

Resolusiku di 2019 tidaklah muluk, semoga rasa kasih itu akan segera pulih dan bahkan bertambah banyak, amien..