Cepat Pergi Hai Euforia!

 

Aku selalu benci dengan suasana seperti ini, ya, sebentar lagi masyarakat Indonesia akan melakukan pemilihan pemimpin baru. Bukan hanya untuk pemilihan pemimpin Negara saja, namun juga disertai pemilihan pemimpin daerah masing-masing. Aku benci dengan keadaan yang saling menjatuhkan. Mengapa demikian? Percaya atau tidak, ketika kita telah memiliki kepercayaan kepada suatu hal, kita pasti akan selalu membenarkan apa yang dilakukannya, dan menutup mata soal kekurangan dan kesalahannya.

Terlebih pada pilpres beberapa periode ini, pilihannya hanya ada 2, si A dan si B. Menjadikan sebagian masyarakat menjadi terbelah dua. Pendukung kubu A, menjelekkan kubu B, sebaliknya, pendukung kubu B, juga menjelekkan kubu A. Haruskah demikian? Bagiku, siapapun pemimpinnya, aku tetaplah orang Indonesia.

Aku bukanlah golongan putih yang enggan memilih, tentu aku akan menggunakan hak pilihku dengan baik. Walau jujur saja, aku tidak terlalu mengenal sosok yang akan ku pilih nanti. Aku hanya mengenal mereka melalui televisi yang menayangkan dan berbicara tentang mereka. Aku mengenal mereka hanya dari surat kabar dan berita yang tersebar melalui dunia maya. Aku mengenal mereka, hanya dari para opini para pendukungnya yang saling berkata A, B, C, D, hingga Z, tentang mereka. Tapi apakah itu benar? Mau memilih atau tidak memilih, parade ini akan terus berjalan, dan pemimpin baru pun akan segera di sahkan.

Jika ada yang berkata, “mengapa memilih orang yang tidak kamu kenal?” ya, memang aku tidak mengenal mereka. Tetapi aku yakin setiap pemimpin pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Meskipun aku tidak mengenal benar siapa mereka, setidaknya Negara mempercayakan mereka untuk mencalonkan diri sebagai calon pemimpin, dan setidaknya aku pun sudah menjalankan kewajibanku sebagai warga Negara Indonesia yang baik, dan tidak di lebih-lebihkan. Cukup bagiku, lihat saja hasilnya. Sayangnya banyak orang di luar sana yang kelewat fanatik, atau karena termakan gosip, turut menyebarkan informasi yang salah dan mejatuhkan kubu lawannya.

Hasilnya apa? Bertengkar dengan keluarga sendiri, kehilangan teman karena berbeda pendapat, iri hati melihat kubu lawan bahagia, menyebarkan berita-berita tentang  kubu lawan yang mana beritanya belum tentu benar. Ahh itu membuatku semakin rumit. Aku lebih memilih menyetel film kartun, duduk menyelonjorkan kaki, sambil ngemil singkong goreng, dan minum es teh manis.

Aku ingin sekali suasana menjelang pemilihan ini seperti saat Asian Games kemarin, damai, saling mendukung, dan saling menyatu. Semua masyarakat berkumpul untuk duduk bersama dan saling lempar tawa dan kebahagiaan. Bahkan saling bergotong-royong dan percaya, atau sekedar berjabatan tangan atau saling tos-tosan, padahal tak saling kenal. Tapi aura-aura positif terus terpancar, dan nampaklah kebahagiaan yang sesungguhnya.